Senin, 28 Februari 2011

pendekatan konflik kognitif

PENDEKATAN KONFLIK KOGNITIF DALAM PEMBELAJARAN FISIKA

Oleh : SUGIYANTA

Widyaiswara LPMP DIY

ABSTRAK

Tujuan dari penelitian ini adalah untuk mendapatkan informasi tentang pengaruh pendekatan konflik kognitif dalam pembelajaran Fisika terhadap hasil belajar siswa dan lingkungan belajar di kelas.

Untuk keperluan tersebut model penelitian menggunakan metode quasi eksperimen. Adapun subjek penelitian terdiri dari kelompok penelitian dan kelompok kontrol yang diambil secara acak, masing-masing terdiri dari 40 siswa . Data hasil belajar siswa berupa data kuantitatif dianalisis secara deskriptif dan uji-t, sedangkan data lingkungan belajar di kelas dianalisis secara secara komparatif kualitatif antara kedua kelompok penelitian.

Berdasarkan analisis dan pengujian yang telah dilakukan diperoleh kesimpulan bahwa pendekatan konflik kognitif dalam pembelajaran Fisika mempunyai pengaruh yang berarti meningkatkan hasil belajar siswa pada taraf signifikan 0,05. Selain itu pendekatan konflik kogntif dalam pembelajaran Fisika juga mampu meningkatkan kualitas lingkungan belajar di dalam kelas lebih kondusif bagi proses pembelajaran.

Kata kunci : Konflik kognitif

BAB IPENDAHULUAN

A. Latar Belakang Masalah

Tuntutan terhadap peningkatan mutu pendidikan, khususnya pembelajaran sains dewasa ini makin terasa. Selain teknis pembelajaran terdapat pula aspek-aspek penting seperti moral dan nilai-nilai (values) yang harus diperhatikan dalam pembelajaran, bukan hanya sekedar pernyataan tentang fakta, konsep, teori maupun hukum-hukum sains. Dengan demikian pendidikan perlu ditempatkan dalam konteks pembentukan manusia seutuhnya sesuai amanat UU Sistem Pendidikan Nasional Tahun 2003.

Tetapi kenyataan di lapangan masih terdapat gejala yang menandai tidak efektifnya pembelajaran di sekolah. Satu di antaranya masih banyak sistem pembelajaran fisika di sekolah yang berjalan secara tradisional dan instingtif sehingga menghambat siswa untuk belajar secara aktif-kreatif, mengalami dan menghayati sendiri proses sains melalui kegiatan belajarnya (Sugiyanta, 2003). Pragmatisme sempit menjadi hantu bagi dunia pendidikan kita. Bukan hal yang mengejutkan jika hasil belajar fisika relatif masih rendah, dan kurang diminati oleh siswa. Karenanya diperlukan reorientasi dan pendekatan baru yang lebih efektif dalam pembelajaran sains fisika.

Menurut Moh. Amien (1987) efektivitas pendekatan instruksional sains tergantung pada produk dan proses yang diinginkan. Produk didasarkan pada transfer produk ilmiah (fakta, konsep, generalisasi, prinsip, teori, dan hukum) yang dapat dilakukan dengan aplikasi spesifik tugas-tugas serupa dengan pengalaman aslinya (Specific transfer of training). Sedangkan proses adalah transfer “science is what scientists do”, meliputi sikap ilmiah (hasrat ingin tahu, jujur, obyektif dsb) dan proses / metode ilmiah (mengidentifikasi problem, mengamati, merumuskan hipotesa dsb). Sikap dan proses ilmiah tersebut merupakan dimensi penting yang harus menjadi fokus dalam pembelajaran Fisika .

Dengan demikian pendekatan baru dalam pembelajaran sains adalah merupakan suatu keyakinan bahwa sains harus diajarkan pada siswa untuk kemanfaatan yang dapat membawa ke arah peningkatan kualitas hidup dan kesejahteraan, mampu mengembangkan potensi secara utuh (self-actualized), melakukan pendekatan baru terhadap situasi untuk memecahkan masalah melalui pemikiran yang mendalam, dengan mengkombinasikan unsur-unsur kemampuan yang dimiliki yaitu kognitif, psikomotorik dan affektif.

Banyak penelitian dilakukan, diantaranya penelitian Munandar (1977) menyatakan bahwa pembelajaran yang terbuka, responsif mengakomodasi perbedaan individu dan berorientasi pada kebutuhan siswa dapat memberikan pengalaman belajar yang bernilai, menyenangkan dan memberi kepuasan pada siswa. Moh. Sidin Ali (1985) menemukan hubungan yang berarti antara berpikir divergen dan kemampuan operasi logik terhadap prestasi belajar fisika dengan koefisien korelasi masing-masing r=0,79 dan r = 0,88. Kemudian Rowe (1970) mengungkapkan hasil penelitiannya bahwa terdapat korelasi yang tinggi antara rangsangan pertanyaan yang diajukan guru dengan tanggapan kreatif siswa. Dengan demikian pembelajaran yang mengakomodasi perbedaan, bersifat terbuka dan memberikan rangsangan efektif akan lebih efektif dalam membantu siswa membangun ilmu pengetahuannya.

Teori konstruktivisme Piaget menyatakan ketika seseorang membangun ilmu pengetahuannya, maka untuk membentuk keseimbangan ilmu yang lebih tinggi diperlukan asimilasi, yaitu kontak atau konflik kognitif yang efektif antara konsep lama dengan kenyataan baru(Woolfolk, 1984). Secara spesifik Van den Berg (1991) dalam penelitiannya menyatakan bahwa metode konfik kognitif dalam pembelajaran Fisika cukup efektif untuk mengatasi miskonsepsi pada siswa dalam rangka membentuk keseimbangan ilmu yang lebih tinggi. Rangsangan konflik kognitif dalam pembelajaran akan sangat membantu proses asimilasi menjadi lebih efektif dan bermakna dalam pergulatan intelektualitas siswa. Untuk itu pendekatan konflik kognitif perlu dilakukan dalam strategi pembelajaran sains fisika

Namun demikian tidaklah mudah untuk mendesain dan melaksanakan pembelajaran dengan pendekatan baru, karena masalah instruksional adalah kompleks. Dalam hal ini Bloom (1976) berpendapat bahwa, dalam belajar faktor yang sangat penting adalah lingkungan belajar, yaitu bagaimana mengelola lingkungan belajar anak dan bukan mengelola anak. Lingkungan belajar yang kondusif memberi pengaruh nyata bagi subjek didik mengembangkan potensi dan intelektualitasnya. Maka penelitian ini hanya memusatkan pada pengaruh pendekatan konflik kognitif dalam pembelajaran Fisika kaitannya dengan hasil belajar dan kualitas lingkungan belajar di kelas pada siswa SMP.

B. Rumusan Masalah

Bagaimanakah pengaruh pendekatan konflik kognitif dalam pembelajaran sains Fisika terhadap hasil belajar dan lingkungan belajar di kelas pada siswa SMP ?

C. Tujuan

Tujuan penelitian ini adalah untuk mendapatkan informasi tentang pengaruh pendekatan konflik kognitif dalam pembelajaran sains Fisika terhadap hasil belajar dan lingkungan belajar di kelas pada siswa SMP.

D. Manfaat

Penelitian ini diharapkan dapat memberikan manfaat praktis dan teoritis bagi peningkatan kualitas layanan pendidikan baik bagi guru, siswa maupun praktisi pendidikan lainnya.

E. Sajian Definisi

Agar diperoleh kesamaan persepsi perlu dikemukakan beberapa definisi berikut:

1. Pendekatan konflik kognitif :

Adalah seperangkat kegiatan pembelajaran dengan mengkomunikasikan dua atau lebih rangsangan berupa sesuatu yang berlawanan atau berbeda kepada peserta didik agar terjadi proses internal yang intensif dalam rangka mencapai keseimbangan ilmu pengetahuan yang lebih tinggi.

2. Lingkungan belajar di kelas :

Adalah kondisi interaksi dan keaktifan peserta didik di kelas ketika proses pembelajaran .

3. Hasil belajar siswa :

Adalah nilai ulangan harian siswa meliputi tes pemahaman dan aplikasi konsep fisika serta kinerja ilmiah.

BAB IIIDESKRIPSI PENELITIAN

A. Konteks Implementasi

Penelitian ini dilaksanakan pada siswa kelas VII semester gasal Tahun Pelajaran 2004/2005 di SMP Negeri 1 Kalasan. Adapun materi pembelajaran meliputi Pengukuran, Zat dan Wujudnya , serta Gerak Lurus. Sedangkan media pembelajaran menggunakan alat-alat laboratorium maupun sumber belajar lain di lingkungan sekitar, terutama kejadian riel dalam kehidupan sehari-hari. Secara lengkap hal ini disajikan dalam bentuk Lembar Kerja Siswa dan perangkat pembelajaran.

B. Perencanaan.

Desain instruksional dengan pendekatan konflik kognitif memerlukan persiapan yang matang, hal ini terkait dengan konsep, tingkat kematangan berpikir subjek didik, konteks lingkungan dan fasilitas yang tersedia. Berikut ini beberapa tahapan yang perlu diperhatikan .

1. Pemetaan masalah dan analisis materi

Langkah awal yang perlu dilakukan adalah analisis tematik dan maping terhadap masalah materi esensial. Analisis tematik digunakan untuk melihat kaitan suatu konsep dengan konsep lain dalam suatu tema pembelajaran yang dipilih. Sedangkan pemetaan masalah sangat diperlukan untuk melihat permasalahan yang mungkin timbul pada suatu konsep seperti miskonsepsi, peta konsep yang rumit dan sulit untuk dipahami, kesalahan struktur konsep, serta kemungkinan masalah lain.

2. Menemukan dan menentukan rangsangan konflik kognitif.

Hal ini dapat dikembangkan sesuai konteks masalah, kondisi lingkungan siswa, serta sarana fasilitas dan media yang tersedia. Bentuk konflik kognitif berupa rangsangan kognitif(pembanding) yang mengandung pertentangan dan dinilai mampu memberikan pengalaman belajar berarti sebagai acuan bagi guru dalam melaksanakan kegiatan pembelajaran yang dapat berupa hasil pengamatan, data, fakta, konsep, teori, hukum, pendapat, informasi media cetak dan elektronik maupun prediksi.

3. Menyusun Silabus

Berdasarkan analisis tematik dan peta masalah di atas, dirancang silabus pembelajaran dengan memasukkan unsur konflik kognitif sebagai bentuk pengalaman belajar siswa.

Silabus pembelajaran dengan pendekatan konflik kognitif

(Contoh terlampir)

Sekolah : ……………………………..

Mata Pelajaran : ……………………………..

Kelas/semester : …………………………….

Standar Kompetensi : ……………………………………………………………

Kompetensi

Dasar

Materi

Pokok

Strategi Pembelajaran

Alokasi Waktu

Sumber Bahan

Tatapmuka/

Metode

Pengalaman Belajar

Konflik Kognitif

1. ……….

1. ….

…………..

…………………

………….

……….

……….

4. Sintaks pembelajaran

Garis besar prilaku guru perlu digambarkan terlebih dahulu dalam sintaks berikut, meski dalam hal ini bersifat dinamik dan kondisional.

SINTAKS PEMBELAJARAN MODEL PENDEKATAN KONFLIK KOGNITIF

FASE-FASE

KEGIATAN GURU

Fase 1

Orientasi siswa kepada konflik

Fase 2

Mengorganisasi siswa untuk belajar

Fase 3

Membimbing penyelidikan individu maupun kelompok

Fase 4

Mengembangkan dan menyajikan hasil karya

Fase 5

Menganalisis dan mengevaluasi

Guru menjelaskan tujuan pembelajaran, menjelaskan sumber belajar yang dibutuhkan, memotivasi siswa terlibat aktif dalam penmecahan konflik dan mencari kebenaran konsep

Guru membantu siswa mendefinisikan dan mengorganisasi tugas belajar yang berhubungan dengan konflik

Guru mendorong siswa untuk mengumpulkan informasi yang relevan, melaksanakan eksperimen, diskus internal untuk mendapatkan penjelasan dan pemecahan masalah/konflik

Guru membantu siswa merencanakan dan menyiapkan hasil karya, dan membantu mereka untuk berbagi tugas dengan temannya.

Guru membantu siswa untuk melakukan refleksi atau evaluasi terhadap penyelidikan mereka dan proses-proses yang mereka lakukan

5. Menyusun Rencana Pembelajaran

Berdasarkan analisis pemetaan materi, silabus dan sintaks pembelajaran di atas, maka dapat disusun skenario pembelajaran, yaitu berupa urutan kegiatan pembelajaran sehingga tampak apa yang akan dikerjakan baik oleh guru maupun peserta didik dalam satuan waktu yang telah ditetapkan. Untuk lebih memberi tekanan pada strategi konflik kognitif maka dikembangkan format Rencana Pembelajaran berikut:

RENCANA PEMBELAJARAN

( Contoh terlampir)

Identitas Mata Pelajaran : ……………………………………………………

Skenario Pembelajaran :

No

Tahap

Langkah-langkah

Waktu

1

2

3

Pendahuluan(Fase 1)

a. Penyajian konflik dan Prasyarat pengetahuan

b. Motivasi

Kegiatan Inti(Fase 2-4)

Pengelolaan konflik

Penutup(fase 5)

………………………………

………………………………

……………………………….

……………………………….

…… menit

…… menit

…… menit

…… menit

Keterangan :

1. Pendahuluan :

a. Prasyarat pengetahuan adalah merupakan pengetahuan yang harus dimiliki peserta didik untuk memahami konsep yang akan di ajarkan . Penyajian konflik adalah cara-cara yang akan digunakan oleh guru dalam menyajikan konflik (bersifat elastis dan dinamis) sesuai dengan metode yang akan digunakan.

b. Motivasi adalah suatu rangsangan yang akan digunakan untuk meningkatkan minat peserta didik untuk mempelajari suatu konsep.

2. Kegiatan Inti :

Pengelolaan konflik adalah cara-cara yang akan ditempuh dalam mengkomunikasikan konflik yang terjadi sesuai metode yang digunakan.

3. Penutup adalah kegiatan akhir dari satu proses pembelajaran yang dilakukan oleh guru dan siswa untuk merangkum dan membuat kesimpulan atas konflik yang ada.

6. Pengelolaan kelas.

Dalam pembelajaran ini pengelolaan kelas menjadi amat penting, karena tidak seperti lingkungan belajar yang terstruktur dengan ketat, namun bersifat terbuka, demokratis, siswa berperanan aktif. Meskipun guru dan siswa melakukan tahapan pembelajaran yang terstruktur dan dapat diprediksi, norma pembelajaran adalah norma inquiri terbuka dan bebas mengemukakan pendapat. Oleh karena itu pengendalian terhadap fokus materi bahasan , waktu, dan kompetensi yang diamanatkan harus diperhatikan dengan seksama.

C. Pelaksanaan

Untuk menguji pengaruh sebuah perlakuan maka digunakan metode quasi eksperimen dengan desain 2x1. Kelas yang ada dipilih secara random menjadi dua bagian, yaitu kelompok penelitian terdiri dari 40 siswa diberi perlakuan pendekatan konflik kognitif dan kelompok kontrol terdiri dari 40 siswa tidak diberi perlakuan tersebut. Meski demikian dalam penelitian sosial – pendidikan tidak dapat melakukan pengontrolan secara ketat terhadap variabel-variabel terkait seperti dalam penelitian ilmu murni.

Untuk lebih mengoptimalkan interaksi kognitif,afektif dan psikomotorik, kelas dibagi dalam beberapa kelompok untuk melakukan eksperimen. Kemudian secara bergantian, siswa mempresentasikan hasilnya. Perbedaan hasil pengukuran / data percobaan , simpulan percobaan siswa merupakan sumber konflik kognitif yang efektif. Pada kesempatan tersebut guru menyajikan data pembanding yang lain berupa informasi, pendapat maupun teori yang mengandung pertentangan sehingga terjadi konflik kognitif.

Konflik tersebut kemudian dikelola dalam bentuk diskusi kelompok dan diskusi kelas Dengan bimbingan guru, siswa menyelesaikan konflik masalah yang timbul dalam rangka membangun teori yang benar.

D. Penilaian

Dalam pembelajaran ini ada dua aspek yang akan diteliti yaitu hasil belajar siswa (meliputi nilai pemahaman aplikasi konsep fisika dan kinerja ilmiah) dan kualitas lingkungan belajar di kelas. Untuk itu dikembangankan instrumen berupa :

1. Soal Tes Ulangan Harian dan Lembar Observasi Siswa(LOS) , yaitu untuk mendapatkan data hasil belajar siswa.

2. Lembar Observasi Kelas dengan menggunakan skala likert, untuk mendapatkan data kualitas lingkungan belajar di kelas.

Data hasil belajar siswa akan dianalisis secara deskriptif analitis . Sedangkan analisis uji beda ( Uji –t ), digunakan untuk menguji keberartian pengaruh perlakuan pendekatan konflik kognitif terhadap hasil belajar. Analisis komparasi kualitatif akan digunakan untuk melihat sejauhmana kualitas lingkungan belajar di kelas.

BAB IV

HASIL PENELITIAN DAN PEMBAHASAN

A. Hasil Belajar Siswa

Berdasarkan tes yang telah dilakukan diperoleh data sebagai berikut:

Tabel 1. Rekapitulasi Hasil Belajar Siswa Kelompok Penelitian ( Kelas VII A )

Ulangan Harian ke

Rata-rata

Median

Modus

Standar Deviasi

Jumlah Siswa Tuntas Belajar

1

7,41

7,30

6,67

0,94

21 (52,5 % )

2

7,98

8,00

8,00

0,71

27 (67,5 % )

3

8,17

8,40

6,80

0,57

28 (70,0 % )

Rata-rata

7,85

7,94

8,04

0,74

25,33(63,33 %)

Tabel 2. Rekapitulasi Hasil Belajar Siswa Kelompok Kontrol ( Kelas VII C )

Ulangan Harian ke

Rata-rata

Median

Modus

Standar Deviasi

Jumlah Siswa Tuntas Belajar

1

7,90

8,00

8,67

0,71

28 (70,0 % )

2

7,63

8,00

8,00

0,71

26 (65,5 %)

3

7,24

7,20

7,20

0,00

18 (45,0 %)

Rata-rata

7,62

7,43

6,51

0,47

23 (57,5 %)

Berdasarkan data di atas tampak bahwa rata-rata nilai ulangan harian pada kelompok penelitian mengalami peningkatan yang cukup berarti dengan nilai rata-rata 7,85. Demikian pula median pada kelompok ini juga mengalami peningkatan. Adapun ketuntasan belajar (nilai >= 7,5) mengalami peningkatan prosentase yang signifikan dengan rata-rata 63,33 % tuntas belajar.

Pada kelompok kontrol justru sejumlah indikator mengalami penurunan dengan nilai rata-rata 7,62 median7,43 dan modus 6,51. Sedangkan tingkat ketuntasan belajar lebih rendah dibanding kelompok penelitian, yaitu hanya 57,50 %. Hal ini berkaitan dengan intensitas proses kognitif belajar siswa , dimana pembelajaran disampaikan secara konvensional sehingga kurang memberikan rangsangan kognitif yang baik bagi subjek didik.

Sebaran nilai pada kelompok yang diberi pendekatan konflik kognitif ternyata lebih baik dibanding kelompok kontrol, hal ini menunjukkan adanya peningkatan interaksi-induksi kognitif yang cukup berarti antar siswa. Dengan demikian hasil belajar semakin meningkat.

Tabel 3. Rekapitulasi Hasil Belajar Siswa kedua Kelompok

Kelompok

Rata-rata Nilai UH

Standar Deviasi (s)

Kelompok Penelitian

c = 7,8511

0,7385

Kelompok Kontrol

m0 = 7,6183

0,4714

Untuk menguji sejauh mana keberartian perlakuan pendekatan konflik dalam pembelajaran sains fisika terhadap hasil belajar siswa , digunakan uji–t pada taraf signifikan 0,05. Dari tabel 3 di atas setelah dilakukan pengujian diperoleh t hitung = 1,9937 ( perhitungan lengkap terlampir). Harga ini jauh lebih besar dari t tabel yaitu 1,68. Dengan demikian dapat disimpulkan bahwa :

Pendekatan konflik kognitif dalam pembelajaran IPA Fisika mempunyai pengaruh yang berarti terhadap hasil belajar siswa.B. Lingkungan Belajar di Kelas

Berdasarkan observasi kelas yang telah dilakukan diperoleh data sebagai berikut :

Tabel 4. Data Perbandingan Kualitas Lingkungan Belajar di Kelas

Aspek

Kelompok Penelitian

Kelompok Kontrol

Skor

Kriteria

Skor

Kriteria

Keaktifan siswa

31

Baik sekali

23

Cukup

Kondisi Kelas

21

Baik

19

Baik

Jumlah Skor

52

Baik sekali

42

Baik

Keterangan : Data lengkap dan penetapan kriteria terlampir.

Berdasarkan tabel 4 di atas, kualitas lingkungan belajar di kelas untuk kelompok penelitian adalah 52 dengan kategori baik sekali, kondisi ini lebih tinggi dibanding kelompok kontrol yaitu 42 dengan kategori baik. Khususnya aspek keaktifan siswa pada kelompok penelitian memiliki skor 31 dengan kategori baik sekali sedang skor kelompok kontrol adalah 23 dengan kategori cukup.

Pada aspek kondisi kelas, perlakuan yang diberikan pada kelompok penelitian juga memberikan pengaruh positif terhadap penciptaan lingkungan belajar di kelas, meskipun keduanya mempunyai kategori baik , tetapi skor kelompok penelitian lebih tinggi yaitu 21 dibanding skor kelompok kontrol yaitu 19 . Dengan demikian pendekatan konflik kognitif dalam pembelajaran sains fisika mampu memberikan pengaruh positif terhadap kualitas lingkungan belajar di kelas, sehingga lebih hangat, komunikatif dan siswa enjoy belajar.

BAB V

PENUTUP
A. Kesimpulan
Berdasarkan analisis dan pembahasan yang telah dilakukan, maka dapat diperoleh kesimpulan bahwa :1. Pendekatan konflik kognitif pada pembelajaran Fisika mempunyai pengaruh yang berarti terhadap hasil belajar siswa. Yaitu ada peningkatan hasil belajar yang cukup signifikan pada kelas yang diberi pendekatan konflik kognitif.2. Pendekatan konflik kognitif pada pembelajaran Fisika mampu meningkatkan kualitas lingkungan belajar di kelas, dimana kelas menjadi lebih hangat, terbuka, kondusif, dan interaktif.
B. Saran
Dengan segala keterbatasannya, maka dari hasil penelitian ini dikemukakan saran sebagai berikut :1. Agar diperoleh hasil yang lebih komprehensif maka aspek maupun variabel penelitian perlu diperluas.2. Jumlah sampel perlu ditambah dan perlu dilakukan pada jenjang pendidikan lainnya.3. Dari sisi teknis pembelajaran, karena kelas dan norma pembelajaran bersifat terbuka maka penggunaan pendekatan konflik kognitif harus dilakukan dengan hati-hati dan cermat, pengelolaan kelas dan waktu harus efisien.4. Agar proses pembelajaran lebih bermakna dan terkontrol , maka perlu ada refleksi bersama, baik dengan siswa maupun sesama guru.5. Pembelajaran dengan pendekatan ini menuntut kreativitas, inovasi dan semangat guru untuk selalu berpihak pada peningkatan kualitas layanan pendidikan, untuk itu perlu adanya keberanian dan kerja keras.

DAFTAR PUSTAKA

Bambang Subali.(2002). Pedoman khusus penyusunan silabus berbasis kemampuan dasar siswa SMP. Yogyakarta: Program Pascasarjana UNY.

Bloom, B.S.(1976). Human characteristic and school learning. New York : Mc. Grow Hill.

Euwe Van den Berg. (1991)Miskonsepsi fisika dan remidiasi. Salatiga: UKSW

Fernandes, H.J.X.(1984). Testing and Measurement. Jakarta. National Educational Planning.

Imam Barnadib (1995). Beberapa aspek substansi ilmu pendidikan. Yogyakarta: Andi Offset.

Moh. Amien.( 1987). Mengajarkan ilmu pengetahuan alam(IPA) dengan menggunakan metode discovery dan inquiri. Yogyakarta: IKIP Yogyakarta.

Maslow, A.H.(1971). The farther reaches of human nature. New York : The Viking Press.

Mitchel,B.W.(1976). Planning for creative learning. Washington: Kendall/Hunt Publishing Company.

Moh. Sidin Ali (1995). Kreativitas, kemampuan operasi logik dan kemampuan dasar berhitung dengan prestasi belajar fisika pada siswa SMA di kotmadya Ujung Pandang. Tesis .Yogyakarta.

Munandar, S.C.U.(1977). Creativity and education: A Study relationsip between measures of creative thinking and a number of educational variabels in Indonesian primary and junior secondary schools. Jakarta : UI.

Rowe, B.M.(1970). Wait-time and reward as instructional variabel: Influence on inquiry and sense and fate control. New York : Columbia University.

Saifudin Azwar.(1976). Tes Prestasi: Fungsi dan pengembangan pengukuran prestasi belajar. Yogyakarta: Pustaka Belajar.

Sugiyanta(2003). Hubungan antara beberapa faktor karakteristik guru dengan gaya mengajar kreatif pada pembelajaran fisika. Tesis. Yogyakarta

Sukamto (1997). Course material on applied educational research. Medan: PPPGT.

Treffinger, D.J.(1992). Encouraging creative learning for gifted and the talented. Ventura Clif : Ventura Country Super Intendent of School Office.

Woolfolk, A.E.(1984). Eductional phsycology for teachers. New Jersey: Prentice-Hall.Inc

Lampiran 1. Pengujian Hipotesis dan data penelitian

1. Pengujian Hipotesis.

Berdasarkan tabel 3. di depan dapat dikemukakan :

Hipotesa :

Ho : m = m o ( Pendekatan konflik kognitif tidak menyebabkan meningkatnya hasil belajar siswa )

Hi : m > m o (Pendekatan konflik kognitif menyebabkan meningkatnya hasil belajar siswa )

Rumus :

Kriteria : Ho ditolak jika ( dk=n – 1= 40-1=39 ). Diketahui berdasarkan daftar distribusi Student t (a=0,05) dengan dk=39 adalah 1,68

Perhitungan :

2. Kualitas Lingkungan Belajar di Kelas.

Berdasarkan observasi kelas yang telah dilakukan diperoleh data sebagai berikut :

a. Kelompok Penelitian

Tabel 5. Skor Kualitas Lingkungan Belajar di Kelas Kelompok Penelitian ( Kelas VII A )

Aspek

Indikator

Skor

1

2

3

4

5

Keaktifan

Siswa

1. Siswa aktif mengemukakan pendapat

Ö

2. Siswa siswa aktif melakukan percobaan

Ö

3. Siswa aktif bertanya pada guru

Ö

4. Siswa aktif bertanya pada siswa atau kelompok lain

Ö

5. Siswa aktif berdiskusi kelompok

Ö

6. Siswa aktif mempresentasikan hasil karyanya.

Ö

7. Siswa aktif membuat laporan praktikum.

Ö

Jumlah

3

8

20

Kondisi

Kelas

8. Suasana kelas hangat

Ö

9. Siswa enjoy mengikuti proses pembelajaran

Ö

10. Fokus terhadap materi bahasan

Ö

11. Ketertiban siswa di dalam kelas

Ö

12. Pemanfaatan sumber belajar

Ö

Jumlah

3

8

10

b. Kelompok Kontrol

Tabel 6. Skor Kualitas Lingkungan Belajar di Kelas Kelompok Kontrol ( Kelas VII C)

Aspek

Indikator

Skor

1

2

3

4

5

Keaktifan

Siswa

1. Siswa aktif mengemukakan pendapat

Ö

2. Siswa siswa aktif melakukan percobaan

Ö

3. Siswa aktif bertanya pada guru

Ö

4. Siswa aktif bertanya pada siswa atau kelompok lain

Ö

5. Siswa aktif berdiskusi kelompok

Ö

6. Siswa aktif mempresentasikan hasil karyanya.

Ö

7. Siswa aktif membuat laporan praktikum.

Ö

jumlah

2

9

12

Kondisi

Kelas

8. Suasana kelas hangat

Ö

9. Siswa enjoy mengikuti proses pembelajaran

Ö

10. Fokus terhadap materi bahasan

Ö

11. Ketertiban siswa di dalam kelas

Ö

12. Pemanfaatan sumber belajar

Ö

Jumlah

4

8

5

Keterangan :

1 = Sangat kurang 4 = Baik

2 = Kurang 5 = Baik Sekali

3 = Cukup

c. Komparasi hasil

Berdasarkan tabel di atas diperoleh rekapitulasi skor antara kedua kelompok sebagai berikut :

Tabel 7. Rekapitulasi Skor Kualitas Lingkungan Belajar di Kelas Kedua Kelompok

Aspek

Kelompok Penelitian

Kelompok Kontrol

Keaktifan siswa

31

23

Kondisi Kelas

21

19

Jumlah Skor

52

42

Untuk memberikan penilaian kualitatif pada hasil tersebut, diperlukan kriteria yang jelas dan tegas. Hasil skor penilaian diatas dibagi dalam kategori yaitu baik sekali , baik ,cukup ,kurang, dan kurang sekali . Adapun Kriteria penilaian ditentukan sebagai berikut :

Range = Skor maksimal - skor minimum

Rentang kriteria penilaian = Range : Jumlah kategori

Median = skor minimum + range/2 (Fernandes, 1984)

Contoh :

Berdasarkan data keaktifan siswa tabel 5 di atas, maka dapat ditentukan kriteria sebagai berikut :

Range = Skor maksimal - skor minimum

= 35 – 7 = 28

Rentang kriteria penilaian = Range : Jumlah kategori

= 28 : 5 kategori

= 5,6 dibulatkan jadi 6

Median = skor minimum + range/2

= 7 + 28/2

= 21

Sehingga diperoleh kriteria sebagai berikut :

1. Kriteria Keaktifan siswa :

Skor 7 – 12 : kurang sekali

Skor 13 – 18 : kurang

Skor 19 – 23 : cukup

Skor 24 – 29 : baik

Skor 30 – 35 : baik sekali

2. Kriteria Kondisi kelas :

Dengan menggunakan rumus seperti di atas maka diperoleh kriteria sebagai berikut :

Skor 5 – 8 : kurang sekali

Skor 9 – 12 : kurang

Skor 13 – 17 : cukup

Skor 18 – 21 : baik

Skor 22 – 25 : baik sekali

3. Kriteria Lingkungan Belajar di kelas :

Dengan menggunakan rumus seperti di atas maka diperoleh kriteria sebagai berikut

Skor 12 – 21 : kurang sekali

Skor 22 – 31 : kurang

Skor 32 – 41 : cukup

Skor 42 – 51 : baik

Skor 52 – 60 : baik sekali

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar